Wednesday, December 26, 2007
TSUNAMI ACEH
Pengenalan Tsunami
| APAKAH TSUNAMI ITU? | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman 7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebih dari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami. Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat merusak. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ASAL ISTILAH TSUNAMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang Tsu artinya pelabuhan dan nami artinya gelombang laut. Dari kisah inilah muncul istilah tsunami. Awalnya tsunami berarti gelombang laut yang menghantam pelabuhan. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tsunami terutama disebabkan oleh gempabumi di dasar laut. Tsunami yang dipicu akibat tanah longsor di dasar laut, letusan gunungapi dasar laut, atau akibat jatuhnya meteor jarang terjadi. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| TSUNAMI AKIBAT GEMPABUMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tidak semua gempabumi mengakibatkan terbentuknya tsunami. Syarat terjadinya tsunami akibat gempabumi adalah: | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| TSUNAMI AKIBAT TANAH LONGSOR | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| KEJADIAN TSUNAMI YANG SIGNIFIKAN DI INDONESIA | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| PENYELAMATAN DIRI SAAT TERJADI TSUNAMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| UPAYA MITIGASI GEMPABUMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| WILAYAH RAWAN TSUNAMI DI INDONESIA | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Di Indonesia wilayah rawan bencana tsunami meliputi 21 wilayah, yaitu: Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung-Banten, Jawa Tengah Bagian Selatan, Jawa Timur Bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak-Yapen, Balikpapan, sekurau, Palu, Talaud, Kendari. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| MITIGASI BENCANA | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sampai saat ini para ilmuwan tidak dapat meramalkan terjadinya gempabumi dan tsunami . Namun dengan melihat catatan sejarah para ilmuwan dapat mengetahui tempat-tempat yang rawan tsunami. Pengukuran tinggi gelombang dan batas landaan dari kejadian tsunami masa lalu akan berguna untuk memperkirakan dan mengurangi dampak tsunami di masa depan. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
TSUNAMI
Warga Aceh memang istimewa | ||||||||||||
Saat dalam perjalanan dan bertugas di kawasan bencana tsunami, saya selalu terheran-heran dengan cara warga yang selamat menghadapi bencana yang menimbulkan berbagai dampak yang sangat menghancurkan ini. Ada banyak cerita tentang orang-orang yang kehilangan seluruh anggota keluarga mereka - ayah, ibu, saudara dan sepupu. Bahkan ada yang mengatakan mereka kehilangan 72 kerabat. Bantuan sulit menjangkau daerah terpencil di Aceh
Anda mungkin mengira ini akan menyebabkan orang remuk redam secara fisik dan psikologis. Tapi, di Aceh, orang tampak telah menerima kehilangan itu dengan menyibukkan diri dengan membangun kembali kehidupan mereka. Saya tiba di Aceh, Indonesia, sekitar pertengahan Januari. Sebagian besar tugas berat untuk mengevakuasi mayat telah dilaksanakan. Namun, pembersihan puing-puing dan pembangunan kembali jalan akan memerlukan waktu beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun. Holocaust Saat melakukan perjalanan dengan perahu, helikopter dan sepeda motor, saya mengunjungi masyarakat dan proyek di beberapa tempat di sepanjang pantai barat, tempat saya menemukan skala kehancuran sulit diterima nalar. Orang hanya bisa mempersamakannya dengan holocaust pasca-nuklir. Tanah, yang dulungnya sangat indah mencengangkan, kini rata, dengann warna abu-abu dan coklat pucat. Pohon, rumah, dan jembatan, sekolah dan klinik runtuh dalam beberapa detik. Tapi, saat saya bertandang, dan mencoba untuk membantu mereka yang selama untuk bangkit kembali, saya menemukan orang-orang yang bertekad kuat dan menjadi sumber inspirasi. Seorang kawan, Safrizal, yang kini relawan bantuan, mengajak saya menemui keluarganya di rumah baru mereka, sebuah pondokan yang dibangun dari kayu bekas di atas sebuah bukit kecil yang berada di atas bekas lokasi kota mereka. Bukit itu kini menjadi kampung halaman sementara bagi beberapa ribu warga yang lolos dari tsunami. Sebagian besar anggota keluarga Safrizal selamat, sebab dia cepat-cepat mengungsikan mereka ke atas bukit. Safrizal mengatakan dia pernah mengikuti lokakarya "kesiapsiagaan bencana" yang juga menyinggung tsunami. Ini contoh bagaimana informasi kecil bisa membawa manfaat besar. Namun, adalah tekad beberapa kelompok relawan muda dari berbagai tempat di Indonesia, yang melibatkan diri dalam berbagai proyek kesehatan, air bersih, sanitasi, atau logistik, yang paling menggugah saya. Dalam banyak hal, kelompok-kelompok itu merupakan organisasi lokal yang sangat efisien. Mereka melakukan banyak sekali pekerjaan dengan sumber daya yang terbatas. Saya meluang waktu untuk mempelajari pekerjaan mereka, dan kemudian merintis kerjasama antara organisasi mereka dengan Merlin untuk mendukung proyek mereka dan merencanakan proyek baru lain. Mengatasi trauma Sebuah kelompok dari Jakarta yang dinamai Ibu menggelar pelajaran tari, nyanyi dan drama untuk anak-anak di kamp pengungsi. Gagasan ini sederhana, tapi luar biasa efektif. Bayangkan: anak-anak yang telah menyaksikan dunia dijungkirbalikkan, kini bisa tertawa dan kembali bersemangat untuk bermain. Di mana-mana saya pergi, saya lihat orang menghadapi masa depan yang tidak menentu, kehilangan rumah mereka, harta benda, dan sumber nafkah, dan belum lagi kehilangan banyak anggota keluarga mereka. Bagaimana mereka pastinya akan memulai lagi semuanya? Inilah pertanyaan menggamangkan yang menghadang banyak orang, pemerintah daerah dan berbagai organisasi kemasyarakatan. Pemerintah tengah membangun kembali infrastruktur seperti jalan, jembatan dan telekomunikasi, dan telah mendanai pembangunan lebih dari 140 lokasi barak, untuk menampung sekitar 100 ribu orang yang saat ini tinggal di tenda-tenda. Bantuan memang segera datang, tapi orang kini harus mulai membangun kembali hidup mereka. Merintis kembali Titian sementara dibangun di bekas jembatan beton Ini adalah awal yang bagus. Tapi, langkah ini baru menanggapi kebutuhan fisik mendesak. Mereka yang selamat memiliki beragam kebutuhan yang kompleks: pendapatan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan, pelatihan dan seterusnya. Kunci pada tahap ini adalah pilihan yang tersedia. Mereka yang selamat bertanya kepada diri mereka sendiri: "bagaimana saya bisa mendapatkan bahan-bahan rumah? Apakah saya diperkenankan membangun kembali di pantai tempat rumah kami dulu? Bagaimana saya akan meminta pinjaman untuk membeli perahu baru?" Sumber daya memang ada. Ada yang mengatakan dana yang tersedia untuk Aceh lebih besar dari dana untuk bencana lain mana pun. Tantangannya adalah menghubungan para warga dengan organisasi-organisasi yang memegang dana dan merencanakan kegiatan mereka untuk membelanjakan uang. Komunitas yang terkucil akibat tsunami kini menghadapi situasi yang jauh lebih sulit. Barak-barak perumahan tidak akan dibangun di daerah mereka, dan tidak banyak layanan yang disediakan untuk mereka. Kawasan-kawasan itu hanya bisa dijangkau dengan perahu dan helikopter, sebab jalan-jalan tersapu oleh tsunami. Sepanjang saya berada di Aceh, saya tertegun dengan betapa penting membentuk jaringan warga setempat dan organisasi-organisasi dalam kondisi krisis seperti ini. Memanfaatkan jaringan ini merupakan satu-satunya cara untuk membelanjakan jutaan pound yang disumbangkan warga Inggris secara efektif. Suatu larut malam, para anggota tim kami bertemu di salah satu kedai kopi, yang sibuk menjelang tengah malam untuk merencanakan langkah kami berikutnya. Nana, Rian dari Jawa Barat, Hasbi, Jess dan Jackie dari Banda Aceh, Dr Jack dari akarta, tengah menyusun rencana operasi hari berikutnya, atau sekadar berhibur, menghindari kengerian masa lalu dan menuju masa depan yang lebih baik. | ||||||||||||
26 DESEMBER 2004
Mega Tsunami
Tsunami of 26th December 2004
The 9.0 magnitude earthquake struck about 00:00 GMT on Sunday December 26 about 100 miles (160km) from the western coast of Indonesia's Sumatra island.
The earthquake was the strongest since the March 28, 1964, quake in Prince William Sound in Alaska. It is the fourth strongest since recordings of magnitude began in 1899, equalling a 1952 quake in Kamchatka, Russia.
The three stronger quakes: May 22, 1960, in Chile (9.5); the 1964 quake (9.2); and a March 9, 1957, quake on Andreanof Island, Alaska (9.1). All three of those quakes, along with the Kamchatka quake, created tsunamis.
Tsunami information
Tsunamis are formed by a displacement of water - a landslide, volcanic eruption, or, as in this case, slippage of the boundary between two of the earth's tectonic plates -slabs of rock 50 to 650 feet (15 to 200 m) thick that carry the Earth's continents and seas on an underground ocean of much hotter, semi-solid material.
The December 26 2004 mega tsunami was caused by slippage of about 600 miles (1,000 km) of the boundary between the India and Burma plates off the west coast of northern Sumatra. The convergence of other plates strains the area, and at the quake's epicenter, the India plate is moving to the northeast at 2 inches (5 cm) per year relative to the Burma plate. The aftershocks were distributed along the plate boundary from the epicenter to near Andaman Island.
Tsunamis can travel up to 600 mph (965 km per hour), 521 knots) at the deepest point of the water, but slow as they near the shore, eventually hitting the shore at 30 to 40 mph (48 to 64 kph or 26 to 35 knots). The energy of the wave's speed is transferred to height and sheer force as it nears shore.
The 7.3 magnitude aftershock might have been powerful enough to create further tsunamis, but did not.
Historical information
The Chilean quake and tsunamis were responsible for 5,700 deaths, and the Prince William Sound quake and tsunamis killed 125; the Andreanof Island and Kamchatka events killed no one.
The deadliest earthquake recorded since 1900 occurred on July 27, 1976, in Tangshan, China, when the official death count reach 255,000 for a 7.5 magnitude quake. Estimated death counts, however, reached as high as 655,000.
The highest toll for an earthquake-tsunami combination since 1900 took place on December 28, 1908, when a 7.2 magnitude quake struck Messina, Italy, killing an estimated 70,000 to 100,000 people.
The deadliest earthquake ever recorded is believed to have occurred on January 23, 1556, in Shansi, China, killing 830,000 people.
The worst tsunami in recent history followed the August 27, 1883, the eruption of the volcano Krakatau. The resulting wave swept over the Indonesian islands of Java and Sumatra, ultimately killing 36,000 people.
A tidal wave - caused not by water displacement on the sea floor but by the floods and high tides accompanying Cyclone Marian - swept Bangladesh in 1991, killing nearly 140,000 people.