Wednesday, December 26, 2007

ACEH

CRISP - MODIS DB Catalogue Browse

ACEH

CRISP - MODIS DB Catalogue Browse


Satellite: TERRA Instr: MODIS
Date : 2004-12-17 Time : 03:43:57.830
Latitude/Longitude
Top Left : 8.32 / 91.76 Right : 5.30 / 112.61
Bottom Left : -15.35 / 86.19 Right : -18.50 / 107.99

TSUNAMI ACEH

Pengenalan Tsunami

APAKAH TSUNAMI ITU?
Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut.
Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman 7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebih dari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami.

Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat merusak.
ASAL ISTILAH TSUNAMI
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang Tsu artinya pelabuhan dan nami artinya gelombang laut. Dari kisah inilah muncul istilah tsunami. Awalnya tsunami berarti gelombang laut yang menghantam pelabuhan.
PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI
Tsunami terutama disebabkan oleh gempabumi di dasar laut. Tsunami yang dipicu akibat tanah longsor di dasar laut, letusan gunungapi dasar laut, atau akibat jatuhnya meteor jarang terjadi.
TSUNAMI AKIBAT GEMPABUMI
Tidak semua gempabumi mengakibatkan terbentuknya tsunami. Syarat terjadinya tsunami akibat gempabumi adalah:
1.Pusat gempa terjadi di dasar laut
2.Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km
Pada tanggal 26 Desember 2004, gempabumi dengan kekuatan 9 Skala Richter di kedalaman 30 km dasar laut sebelah baratdaya Aceh membangkitkan gelombang tsunami dengan kecepatan awal sekitar 700 km/jam. Gelombang ini menjalar ke segala arah dari pusat tsunami dan menyapu wilayah Aceh dan Sumatera Utara dengan kecepatan antara 15 - 40 km per jam dan tinggi gelombang 2 hingga 48 meter. Korban jiwa mencapai 250.000 orang lebih. Dalam 3 jam setelah gempabumi, negara-negara di kawasan Samudera Hindia juga terkena tsunami.
TSUNAMI AKIBAT LETUSAN GUNUNGAPI
Tahun 1883, letusan Gunung Krakatau di Indonesia mengakibatkan Tsunami yang dahsyat. Ketika gelombangnya menyapu pantai Lampung dan Banten, kira-kira 5000 kapal hancur dan menenggelamkan banyak pulau kecil. Gelombang setinggi 12 lantai gedung ini, kira-kira 40 m, menghancurkan hampir 300 perkampungan dan menewaskan lebih dari 36000 orang.
TSUNAMI AKIBAT TANAH LONGSOR
Sekitar 81 juta ton es dan batuan jatuh ke Teluk Lituya di Alaska tahun 1958. Longsoran ini terjadi karena guncangan gempabumi sebelumnya. Gelombang tsunami yang terbentuk akibat longsoran ini menjalar cepat sepanjang teluk. Tinggi gelombangnya mencapai 350-500 m saat melanda lereng-lereng gunung dan menyapu pepohonan dan semak belukar. Ajaibnya, hanya dua orang pemancing ikan yang tewas.
KEJADIAN TSUNAMI YANG SIGNIFIKAN DI INDONESIA
No.TahunTempatMagnitudaKorban
1.1883G.Krakatau-36.000
2.1833Sumbar, Bengkulu, Lampung8,8Tak tercatat
3.1938Kep. Kai - Banda 8,5Tak tercatat
4.1967Tinambung-58
5.1968Tambu, Sulteng 6200
6.1977Sumbawa6,1161
7.1992Flores6,82.080
8.1994Banyuwangi7,2377
9.1996Toli - toli 79
10.1996Biak8,2166
11.2000Banggai7,350
12.2004Nanggroe Aceh Darussalam 9250.000
PENYELAMATAN DIRI SAAT TERJADI TSUNAMI
Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan.
  • Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempabumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.
  • Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
  • Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang.
  • Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban. Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempabumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.
  • Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
  • Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang.
  • Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.
UPAYA MITIGASI GEMPABUMI
  • Membangun bangunan vital/strategis atau bangunan lainnya yang mengundang konsentrasi banyak manusia di wilayah rawan gempabumi menggunakan konstruksi yang tahan terhadap gempa.
  • Tidak membangun permukiman dan aktifitas penduduk diatas, pada atau dibawah tebing
  • Tidak mendirikan bangunan diatas tanah timbunan yang tidak memenuhi tingkat kepadatan yang sesuai dengan daya dukung tanah terhadap konstruksi bangunan diatasnya
  • Pemetaan mikrozonasi di wilayah rawan gempa bumi
  • Perlu adanya RUTR dan RTRW yang dituangkan dalam peraturan daerah yang berwawasan dan mempertimbangkan aspek kebencanaan sehingga prinsip bangunan berkelanjutan dapat tercapai
  • Membangun kewaspadaan masyarakat dan pemerintah daerah melalui pelatihan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi.
  • Menyiapkan alur dan tempat evakuasi bencana
  • Menyelenggarakan pendidikan dini melalui jalur pendidikan formal dan non-formal tentang gempa bumi dan bahayanya di wilayah rawan gempa bumi
  • Membangun alur dan tempat pengungsian serta bukit-bukit untuk menghindar dari gelombang tsunami
WILAYAH RAWAN TSUNAMI DI INDONESIA
Di Indonesia wilayah rawan bencana tsunami meliputi 21 wilayah, yaitu: Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung-Banten, Jawa Tengah Bagian Selatan, Jawa Timur Bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak-Yapen, Balikpapan, sekurau, Palu, Talaud, Kendari.
MITIGASI BENCANA
Sampai saat ini para ilmuwan tidak dapat meramalkan terjadinya gempabumi dan tsunami . Namun dengan melihat catatan sejarah para ilmuwan dapat mengetahui tempat-tempat yang rawan tsunami. Pengukuran tinggi gelombang dan batas landaan dari kejadian tsunami masa lalu akan berguna untuk memperkirakan dan mengurangi dampak tsunami di masa depan.
Batu-batu pemecah gelombang. Selain batu-batu buatan, kita bisa memanfaatkan hutan bakau.
Pembuatan bangunan tempat menyelamatkan diri.
Pembangunan dinding penahan laju tsunami. Diperlukan kerjasama dengan ahli sipil untuk mengukur kekuatannya. Efek sampingnya, jika tidak kuat, dinding itu akan roboh terbawa arus dan lebih membahayakan masyarakat.
Pembangunan rumah dengan tiang-tiang kokoh diatas batas tinggi gelombang tsunami.
Selain batu-batu buatan, untuk mengurangi laju tsunami dapat diupayakan juga dengan memanfaatkan hutan bakau (Mangrove).

TSUNAMI

Warga Aceh memang istimewa

Saat dalam perjalanan dan bertugas di kawasan bencana tsunami, saya selalu terheran-heran dengan cara warga yang selamat menghadapi bencana yang menimbulkan berbagai dampak yang sangat menghancurkan ini.

Ada banyak cerita tentang orang-orang yang kehilangan seluruh anggota keluarga mereka - ayah, ibu, saudara dan sepupu. Bahkan ada yang mengatakan mereka kehilangan 72 kerabat.

Bantuan sulit menjangkau daerah terpencil di Aceh

Bantuan sulit menjangkau daerah terpencil di Aceh

Anda mungkin mengira ini akan menyebabkan orang remuk redam secara fisik dan psikologis. Tapi, di Aceh, orang tampak telah menerima kehilangan itu dengan menyibukkan diri dengan membangun kembali kehidupan mereka.

Saya tiba di Aceh, Indonesia, sekitar pertengahan Januari. Sebagian besar tugas berat untuk mengevakuasi mayat telah dilaksanakan. Namun, pembersihan puing-puing dan pembangunan kembali jalan akan memerlukan waktu beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun.

Holocaust

Saat melakukan perjalanan dengan perahu, helikopter dan sepeda motor, saya mengunjungi masyarakat dan proyek di beberapa tempat di sepanjang pantai barat, tempat saya menemukan skala kehancuran sulit diterima nalar.

Orang hanya bisa mempersamakannya dengan holocaust pasca-nuklir. Tanah, yang dulungnya sangat indah mencengangkan, kini rata, dengann warna abu-abu dan coklat pucat. Pohon, rumah, dan jembatan, sekolah dan klinik runtuh dalam beberapa detik.

Tapi, saat saya bertandang, dan mencoba untuk membantu mereka yang selama untuk bangkit kembali, saya menemukan orang-orang yang bertekad kuat dan menjadi sumber inspirasi.

Seorang kawan, Safrizal, yang kini relawan bantuan, mengajak saya menemui keluarganya di rumah baru mereka, sebuah pondokan yang dibangun dari kayu bekas di atas sebuah bukit kecil yang berada di atas bekas lokasi kota mereka.

Bukit itu kini menjadi kampung halaman sementara bagi beberapa ribu warga yang lolos dari tsunami.

Sebagian besar anggota keluarga Safrizal selamat, sebab dia cepat-cepat mengungsikan mereka ke atas bukit. Safrizal mengatakan dia pernah mengikuti lokakarya "kesiapsiagaan bencana" yang juga menyinggung tsunami. Ini contoh bagaimana informasi kecil bisa membawa manfaat besar.

Namun, adalah tekad beberapa kelompok relawan muda dari berbagai tempat di Indonesia, yang melibatkan diri dalam berbagai proyek kesehatan, air bersih, sanitasi, atau logistik, yang paling menggugah saya.

Dalam banyak hal, kelompok-kelompok itu merupakan organisasi lokal yang sangat efisien. Mereka melakukan banyak sekali pekerjaan dengan sumber daya yang terbatas. Saya meluang waktu untuk mempelajari pekerjaan mereka, dan kemudian merintis kerjasama antara organisasi mereka dengan Merlin untuk mendukung proyek mereka dan merencanakan proyek baru lain.

Anak-anak Aceh kembali belajar untuk menari, tertawa dan bermain

Mengatasi trauma

Sebuah kelompok dari Jakarta yang dinamai Ibu menggelar pelajaran tari, nyanyi dan drama untuk anak-anak di kamp pengungsi. Gagasan ini sederhana, tapi luar biasa efektif.

Bayangkan: anak-anak yang telah menyaksikan dunia dijungkirbalikkan, kini bisa tertawa dan kembali bersemangat untuk bermain.

Di mana-mana saya pergi, saya lihat orang menghadapi masa depan yang tidak menentu, kehilangan rumah mereka, harta benda, dan sumber nafkah, dan belum lagi kehilangan banyak anggota keluarga mereka.

Bagaimana mereka pastinya akan memulai lagi semuanya? Inilah pertanyaan menggamangkan yang menghadang banyak orang, pemerintah daerah dan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Pemerintah tengah membangun kembali infrastruktur seperti jalan, jembatan dan telekomunikasi, dan telah mendanai pembangunan lebih dari 140 lokasi barak, untuk menampung sekitar 100 ribu orang yang saat ini tinggal di tenda-tenda.

Bantuan memang segera datang, tapi orang kini harus mulai membangun kembali hidup mereka.

Merintis kembali

Titian sementara dibangun di bekas jembatan beton

Ini adalah awal yang bagus. Tapi, langkah ini baru menanggapi kebutuhan fisik mendesak.

Mereka yang selamat memiliki beragam kebutuhan yang kompleks: pendapatan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan, pelatihan dan seterusnya. Kunci pada tahap ini adalah pilihan yang tersedia.

Mereka yang selamat bertanya kepada diri mereka sendiri: "bagaimana saya bisa mendapatkan bahan-bahan rumah? Apakah saya diperkenankan membangun kembali di pantai tempat rumah kami dulu? Bagaimana saya akan meminta pinjaman untuk membeli perahu baru?"

Sumber daya memang ada. Ada yang mengatakan dana yang tersedia untuk Aceh lebih besar dari dana untuk bencana lain mana pun.

Tantangannya adalah menghubungan para warga dengan organisasi-organisasi yang memegang dana dan merencanakan kegiatan mereka untuk membelanjakan uang.

Komunitas yang terkucil akibat tsunami kini menghadapi situasi yang jauh lebih sulit.

Barak-barak perumahan tidak akan dibangun di daerah mereka, dan tidak banyak layanan yang disediakan untuk mereka.

Kawasan-kawasan itu hanya bisa dijangkau dengan perahu dan helikopter, sebab jalan-jalan tersapu oleh tsunami.

Sepanjang saya berada di Aceh, saya tertegun dengan betapa penting membentuk jaringan warga setempat dan organisasi-organisasi dalam kondisi krisis seperti ini. Memanfaatkan jaringan ini merupakan satu-satunya cara untuk membelanjakan jutaan pound yang disumbangkan warga Inggris secara efektif.

Suatu larut malam, para anggota tim kami bertemu di salah satu kedai kopi, yang sibuk menjelang tengah malam untuk merencanakan langkah kami berikutnya.

Nana, Rian dari Jawa Barat, Hasbi, Jess dan Jackie dari Banda Aceh, Dr Jack dari akarta, tengah menyusun rencana operasi hari berikutnya, atau sekadar berhibur, menghindari kengerian masa lalu dan menuju masa depan yang lebih baik.

26 DESEMBER 2004

Mega Tsunami

Tsunami of 26th December 2004

The 9.0 magnitude earthquake struck about 00:00 GMT on Sunday December 26 about 100 miles (160km) from the western coast of Indonesia's Sumatra island.

The earthquake was the strongest since the March 28, 1964, quake in Prince William Sound in Alaska. It is the fourth strongest since recordings of magnitude began in 1899, equalling a 1952 quake in Kamchatka, Russia.

The three stronger quakes: May 22, 1960, in Chile (9.5); the 1964 quake (9.2); and a March 9, 1957, quake on Andreanof Island, Alaska (9.1). All three of those quakes, along with the Kamchatka quake, created tsunamis.

Tsunami information

Tsunamis are formed by a displacement of water - a landslide, volcanic eruption, or, as in this case, slippage of the boundary between two of the earth's tectonic plates -slabs of rock 50 to 650 feet (15 to 200 m) thick that carry the Earth's continents and seas on an underground ocean of much hotter, semi-solid material.

The December 26 2004 mega tsunami was caused by slippage of about 600 miles (1,000 km) of the boundary between the India and Burma plates off the west coast of northern Sumatra. The convergence of other plates strains the area, and at the quake's epicenter, the India plate is moving to the northeast at 2 inches (5 cm) per year relative to the Burma plate. The aftershocks were distributed along the plate boundary from the epicenter to near Andaman Island.

Tsunamis can travel up to 600 mph (965 km per hour), 521 knots) at the deepest point of the water, but slow as they near the shore, eventually hitting the shore at 30 to 40 mph (48 to 64 kph or 26 to 35 knots). The energy of the wave's speed is transferred to height and sheer force as it nears shore.

The 7.3 magnitude aftershock might have been powerful enough to create further tsunamis, but did not.

Historical information

The Chilean quake and tsunamis were responsible for 5,700 deaths, and the Prince William Sound quake and tsunamis killed 125; the Andreanof Island and Kamchatka events killed no one.

The deadliest earthquake recorded since 1900 occurred on July 27, 1976, in Tangshan, China, when the official death count reach 255,000 for a 7.5 magnitude quake. Estimated death counts, however, reached as high as 655,000.

The highest toll for an earthquake-tsunami combination since 1900 took place on December 28, 1908, when a 7.2 magnitude quake struck Messina, Italy, killing an estimated 70,000 to 100,000 people.

The deadliest earthquake ever recorded is believed to have occurred on January 23, 1556, in Shansi, China, killing 830,000 people.

The worst tsunami in recent history followed the August 27, 1883, the eruption of the volcano Krakatau. The resulting wave swept over the Indonesian islands of Java and Sumatra, ultimately killing 36,000 people.

A tidal wave - caused not by water displacement on the sea floor but by the floods and high tides accompanying Cyclone Marian - swept Bangladesh in 1991, killing nearly 140,000 people.

HAWAI



The arrival of a wave at Island of Oahu, Hawaii, about 3600km from the source of 1957 Aleutian Islands tsunami.

MEULABOH